FST UINSA Jajaki Kerjasama Prodi Arsitektur dengan Malaysia

UINSA Newsroom, Kamis (08/08/2019); Kelas internasional menjadi salah satu sarana menyongsong visi bertaraf internasional UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya. Rabu, 07 Agustus 2019, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) khususnya Prodi Arsitektur secara khusus menggelar, Kuliah Tamu dan Penjajakan Kerjasama. Digelar di Ruang sidang Lt. 2 FST UINSA, kegiatan ini menghadirkan pembicara Prof. Dr. Nangkula Utaberta, I.A.I. Director of Research Development Center. Linton University College, Malaysia. Tema yang diusung adalah ‘Desain Arsitektur Islam Nusantara, Komparasi Indonesia-Malaysia.’

Hadir dalam kegiatan ini Plt Rektor UINSA yakni Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan, Dra. Wahidah Zein Br Siregar, MA., Ph.D., Plt. Dekan FST, Dr. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag., Kepala Biro Administrasi Akademik, Kemahasiswaan, dan Kerjasama, Drs. H. Syamsul Bahri, M.Pd.I., Ketua Halal Center, Dr. Lilik Hamidah, S.Ag, M.Si., Segenap Wakil Dekan FST, Kajur-Sekjur, Kaprodi-Sekprodi, serta Mahasiswa Prodi Arsitektur UINSA.

Dr. Evi dalam sambutan mewakili FST UINSA mengharap, kegiatan Kuliah Tamu dan Penjajakan Kerjasama memberikan dampak positi bagi peningkatan kapasitas dan kualitas UINSA. Terutama kaitannya dengan disiplin ilmu Prof. Nangkula selaku narasumber, Dr. Evi mengajak kepada segenap Mahasiswa Arsitektur yang hadir agar memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik.

“Pagi hari ini, kita kedatangan tamu yang luar biasa Prof. Nangkula, dengan disiplin ilmu di Bidang Arsitektur. Kita bisa banyak belajar dari beliau. Luar biasanya lagi adalah fokus di bidang halal center, tentang apa hubungan halal center dengan arsitektur,” ujar Dr. Evi memberi masukan diskusi.

Dra Wahidah, Ph.D., yang juga berkesempatan menyampaikan sambutan mengucap syukur diberi kesempatan hadir dan membuka langsung kegiatan Kuliah Tamu dan Penjajakan Kerjasama tersebut. Senada dengan Dr. Evi, kegiatan tersebut diharapkan Dra. Wahidah, Ph.D., dapat diambil sisi positif, kaitannya dengan peningkatan kapasitas dan kualitas pengetahuan.

Berbicara mengenai Arsitektur, Dra. Wahidah. Ph.D., menjelaskan, khususnya Arsitektur Islam Nusantara tidak hanya tentang obyek bangunan tapi juga keterkaitannya dengan faktor sosiologis, antropolgis, Halal Center dan lain sebagainya. “Arsitektur bukan single issue, tapi sangat berkaitan dengan faktor-faktor lainnya. Apa sih Arsitektur Islam? Apakah hanya masjid? Apa bangunan yang dibangun dengan memperhatikan kondisi alam? Ataukah arsitektur yang memberi rahmat?” tukas Dra. Wahidah, Ph.D.

Sementara itu, dalam kesempatan kuliah umum, Prof. Nangkula banyak menceritakan tentang hasil penelitian yang pernah dilakukan. Khususnya tentang arsitektur masjid dari negara-negara yang berbeda. Penelitian tersebut membawa beberapa konklusi, yakni bahwa untuk memahami sebuah karya Arsitektur harus dipahami pula konteksnya. “Architecture is a Spirit of the time, and Spirit of the place,” ujar Prof. Nangukula.

Beberapa pertanyaan dilontarkan Prof. Nangkula sebagai pemantik diskusi. Seperti, Masjid apakah sebuah bangunan atau institusi? Masjid apakah tempat sholat atau pembangunan masyarakat? “Kalau saya menganggap, masjid adalah sebuah institusi tempat pembangunan masyarakat. Itulah kenapa masjid pertama kali yang dibangun Nabi, asitekturnya terbuka dan disana menjadi pusat kegiatan masyarakat. Pendidikan, Perdagangan, Pelatihan, Layanan Kesehatan, dan lain-lain. Karenanya, masjid seharusnya dibuka untuk umum, agar semua orang tahu lebih dalam tentang apa itu Islam,” ujar Prof. Nangkula menjelaskan. (Nur-Chy/Humas)

Share this