Arsitektur Bukan Sekedar Merancang Bangunan

Tak banyak orang menjadikan profesi arsitek sebagai ruang pengabdian kepada masyarakat. Dari yang sedikit itu ada nama Gede Kresna. Arsitek ini memilih menempatkan workshop jauh dari pusat keramaian Pulau Dewata, Bali.

Bukan tanpa alasan, pria yang biasa dijuluki arsitek desa ini tinggal di Desa Bengkala, Kubutambahan, Singaraja. Baginya desa memberi keluasan cara pandang sekaligus keseimbangan batin. Desa menjadi sumber inspirasi dalam pengerjaan proyek-proyek arsitektur ramah lingkungan. Dia memilih sedapat mungkin menggunakan kayu bekas untuk berkarya. Diapun selalu semaksimal mungkin memanfaatkan bahan lokal.
Baginya, arsitektur menjadi gerakan perlawanan. Sang arsitek menjadi semacam pemberontak. Rumah Intaran, nama biro arsitek Kresna tak melulu gambar bangunan. Ada minyak kelapa dan madu.
“Ketika minyak sawit menjadi persoalan, kita respon dengan minyak kelapa. Kita buat dan konsumsi minyak kelapa,” kata Kresna, Jumat, (8/1/16), di Temanggung, kepada Mongabay. Dia hadir sebagai salah satu pembicara dalam acara “Home Coming for Upcoming,” sebelum International Conference on Village Revitalitation kedua dihelat di Jepang, tahun ini.
Saat susu menjadi permainan industri, Rumah Intaran merespon dengan mengampanyekan makan empat sehat lima madu. Dia berburu madu ke pelosok desa, membeli dari peternak, dan memastikan kualitas sebelum dijual kembali. Dia juga membuat pelatihan-pelatihan tentang madu.
Festival Musim Hujan
Setelah tahun-tahun lalu mendokumentasikan persoalan di desa, menerbitkan beragam buku, tahun ini Rumah Intaran menyelenggarakan Festival Musim Hujan. Ini sebongkah perlawanan juga meski dengan idiom romantis.
“Kita menanam dua jenis pohon, lerak dan intaran. Lerak ditanam di pegunungan dan Intaran dataran rendah,” katanya.
Aksi itu di 13 desa. Sebanyak 200 bibit intaran dan lerak 500 batang ditanam. Kresna pilih lerak karena bisa membantu menjaga kualitas air. Sebab, air sedang menjadi persoalan sentral bahkan di desa-desa. “Justru di desa mereka kekurangan air bersih.” “Pohon ini hidup di pinggir-pinggir sungai. Kalau lerak tumbuh, sungai terjaga. Kita juga bisa lebih sedikit menggunakan deterjen karena lerak bisa mengganti sabun. Jadi dalam sekali langkah menyelesaikan beberapa hal.”
Begitupun intaran. Kresna menyitir majalah lingkungan yang menyebut intaran sebagai the most useful tree in the world. Di beberapa tempat di Bali, warga menyakralkan intaran. Mereka memanfaatkan kayu untuk bahan bangunan suci.
Seluruh pohon intaran (mimba, nimba, dan imbo), bisa untuk berbagai keperluan. Biji buat pestisida alami, daun untuk obat, ranting dan kulit kayu untuk sikat gigi. Pohon menjulang dengan akar kuat ini sangat bagus untuk perindang sekaligus penahan erosi. Berkat kaya manfaat itupulalah, Kresna memilih nama Rumah Intaran sebagai studio. “Selain istimewa, kebetulan di site kita juga banyak intaran.”
Suara dari desa
Kini usia Rumah Intaran, kurang lebih empat tahun. Kresna mengawali dengan berkomitmen memberi sumbangan pemikiran atas persoalan mendasar masyarakat.
“Kita tidak berpretensi menyelesaikan semua persoalan, paling tidak memberi sumbangan pemikiran atau catatan atas persoalan fundamental dan harus disuarakan, misal soal makanan sehat,” katanya.
Kesulitan mendapatkan makanan sehat bebas pestisida, katanya, bukan hanya dihadapi orang kota, juga di desa. “Dari situ melebar ke mana-mana, ke pertanian, kedaulatan pangan, isu-isu global seperti strategi pangan global, hegemoni global yang berdampak ke generasi akan datang.”
Rumah Intaran tak merasa perlu menyelesaikan persoalan sendirian. Setidaknya ketika ada persoalan mereka respon. “Ketika buah-buahan banyak menggunakan pestisida, kita menolak makan itu.”
Bahkan jika menjadi pembicara, mereka mensyaratkan panitia menyediakan makanan minuman tak memakai wadah plastik dan strereofoam. Jika panitia tak sanggup, mereka siap membawa bekal sendiri.
Keseriusan sama dalam menghormati keselarasan alam dia tunjukkan dalam penggunaan material-material ramah lingkungan dalam berarsitektur. Rumah Intaran, hanya menggunakan kayu-kayu bekas. Kresna sangat dikenal oleh pedagang kayu bekas. Kayu bekas kapal, kerap dia incar.
Rumah Intaran, selalu memakai bahan-bahan alami dan lokal, sedikit sekali menggunakan material industri karena dinilai sulit daur ulang.
“Saat mendisain proyek kepada setiap klien, kita sampaikan informasi lokal material. Kita bikin scoring lokal material. Kalau material kita ambil dari jauh, scoring makin rendah. Material dekat scoring makin tinggi.”
Perhitungan itu, katanya, nanti diakumulasi sebagai nilai bangunan secara material. Klien harus tahu itu. Tujuannya, arsitek dan klien memiliki persepsi sama tentang alam.
Kresna tak khawatir klien bakal lari. Mereka yang bersungguh-sungguh peduli, katanya, pasti kembali. Baginya, arsitektur bukan hanya soal merancang bangunan juga merawat dan melestarikan kehidupan.
sumber artikel: http://www.mongabay.co.id/2016/01/21/gede-kresna-arsitektur-bukan-hanya-merancang-bangunan-juga-merawat-kehidupan/
Share this